Kenapa kebanyakan gula bisa bikin kulit cepat tua

Namanya "sugar sag". Terdengar aneh, tapi ini istilah dermatologi beneran. Dan begitu paham prosesnya, kopi manis harianmu bakal kelihatan beda.

Kemasan Dailyswit dengan daun stevia segar

Kita udah biasa dengar gula kaitannya sama berat badan dan gula darah. Tapi ada satu efek yang jarang dibahas: gula berlebih juga ikut campur di proses penuaan kulit. Bukan mitos skincare, ada mekanisme biologisnya.

Kenalan sama "glikasi"

Ada proses alami di tubuh namanya glikasi (glycation). Singkatnya: molekul gula di aliran darah "nempel" ke protein tanpa lewat jalur enzim yang rapi. Hasil reaksinya membentuk senyawa bernama AGEs (Advanced Glycation End-products). Makin tinggi dan makin sering kadar gula naik, makin banyak AGEs yang kebentuk, dan ia menumpuk seiring usia.[3]

Terus, apa hubungannya sama kulit?

Kekenyalan kulit ditopang dua protein: kolagen dan elastin. Keduanya bikin kulit terasa kenyal dan cepat balik waktu ditekan. Masalahnya, glukosa dan fruktosa bisa mengikat silang (cross-link) serat kolagen dan elastin lewat glikasi tadi. Serat yang tadinya lentur jadi kaku, rapuh, dan susah diperbaiki tubuh.[1]

Dermatolog menyebut efek visualnya "sugar sag": kulit kehilangan kekencangan dan mulai kelihatan kendur.[2]

Bayangin dua tali karet yang seharusnya bisa melar bebas, lalu dilem jadi satu di beberapa titik. Kurang lebih itu yang terjadi ke serat kolagen waktu terkena glikasi.

Nggak cuma bikin kendur

AGEs juga menempel ke reseptor di permukaan sel (namanya RAGE) dan memicu stres oksidatif serta peradangan. Dua hal ini dikaitkan dengan tanda-tanda penuaan kulit dan penurunan kualitas kulit secara umum.[3] Dan ada faktor yang memperparah: paparan sinar UV matahari disebut bisa mempercepat pembentukan AGEs di kulit.[1] Jadi kombinasi sering kena matahari dan asupan gula tinggi kurang bersahabat buat kulit.

Kabar baiknya: ini bisa direm

Sebelum panik: glikasi itu proses normal yang nggak bisa disetop total, dan penuaan kulit dipengaruhi banyak hal (genetik, usia, matahari, tidur, stres, rokok). Gula cuma salah satu faktor. Bedanya, gula justru faktor yang paling bisa kamu kendalikan dari piring dan gelasmu sendiri.

Langkah yang masuk akal dan didukung literatur:

  • Tekan gula berlebih. WHO menyarankan asupan gula bebas ditekan, idealnya di bawah 5% energi harian (sekitar 25 gram).[4] Makin stabil gula darah, makin sedikit "bahan baku" buat AGEs.
  • Kurangi makanan yang tinggi AGEs. Literatur menyebut gorengan, daging bakar bersuhu tinggi, dan minuman bersoda berwarna gelap termasuk penyumbang AGEs dari makanan.[2]
  • Rajin pakai tabir surya. Karena UV mempercepat glikasi di kulit, proteksi matahari itu sekali mendayung, dua pulau terlampaui.

Jadi, apa yang bisa dilakukan?

Penyumbang gula terbesar di keseharian kita sering justru dari yang cair: kopi susu, teh manis, minuman kekinian. Mengurangi gula tambahan di situ salah satu langkah paling gampang, tanpa harus berhenti menikmati yang manis. Misalnya dengan pemanis alami tanpa kalori seperti stevia, yang juga dipakai Dailyswit.

Biar jelas ya: ini soal kebiasaan makan, bukan produk ajaib. Nggak ada tetes atau bahan apa pun yang bisa "menghapus" kerutan. Yang bikin beda justru konsistensi kecil yang kamu jaga tiap hari.

Sumber

  1. Danby FW. Nutrition and aging skin: sugar and glycation. Clinics in Dermatology (2010). sciencedirect.com
  2. Skin Therapy Letter. Sugar Sag: Glycation and the Role of Diet in Aging Skin. skintherapyletter.com
  3. Wang, dkk. The effects of advanced glycation end-products on skin and potential anti-glycation strategies. Experimental Dermatology (2024). onlinelibrary.wiley.com
  4. WHO. Guideline: Sugars intake for adults and children. who.int

Lanjut baca

Masih penasaran soal stevia?

Dailyswit memaniskan pakai daun stevia. 0 kalori, cukup 1–2 tetes. Kalau mau tahu lebih dalam, panduan lengkapnya ada di sini.