Memilih pemanis saat harus menjaga gula darah

Bukan soal berhenti menikmati yang manis, tapi soal memilih dengan lebih paham.

Minuman manis dengan pemanis Dailyswit

Buat banyak orang di Indonesia, urusan gula darah bukan lagi hal yang jauh. Menurut IDF Diabetes Atlas, Indonesia masuk lima besar dunia buat jumlah penyandang diabetes dewasa, kira-kira satu dari sembilan orang dewasa.[1] Angka itu bikin makin banyak orang mulai memperhatikan asupan gula, termasuk lebih hati-hati memilih pemanis.

Kenapa jenis pemanis penting?

Gula pasir (sukrosa) dicerna jadi glukosa, yang lalu menaikkan kadar gula darah. Buat yang perlu jaga gula darah, seberapa besar pengaruh sebuah pemanis ke gula darah jadi pertimbangan utama. Di sinilah pemanis dibagi jadi dua kelompok besar.

  • Pemanis nutritif (bergula/berkalori): gula pasir, madu, sirup, gula aren. Memberi rasa manis sekaligus kalori, dan umumnya menaikkan gula darah.
  • Pemanis non-nutritif (rendah/0 kalori): termasuk stevia dan pemanis buatan seperti aspartam atau sukralosa. Memberi rasa manis dengan sedikit atau tanpa kalori, dan umumnya berdampak minimal pada gula darah.

Apa yang sebaiknya diperhatikan?

Waktu memilih pemanis untuk jaga gula darah, ini yang biasanya jadi pertimbangan:

  • Kandungan kalori & gula. Semakin rendah, semakin kecil kontribusinya pada asupan gula harian.
  • Indeks glikemik. Pemanis dengan indeks glikemik mendekati nol praktis tidak menaikkan gula darah. Pelajari indeks glikemik di sini.
  • Status keamanan & izin edar. Pastikan pemanis terdaftar resmi (di Indonesia: BPOM) dan diakui otoritas keamanan pangan.
  • Kepraktisan. Pemanis yang mudah ditakar membantu mengontrol jumlah yang dipakai.

Di mana posisi stevia?

Stevia itu pemanis non-nutritif dari daun tanaman. Sebagai pemanis, stevia punya 0 kalori dan indeks glikemik mendekati nol, jadi pada dasarnya tidak menaikkan gula darah seperti gula pasir. Ini yang bikin stevia sering jadi pilihan buat orang yang lagi membatasi asupan gula, termasuk yang ramah untuk penyandang diabetes.

Beberapa penelitian bahkan mencoba melihat efek stevia lebih jauh; sebuah meta-analisis 2024 mengaitkan konsumsi stevia dengan penurunan gula darah pada kelompok tertentu, meski efeknya pada penanda jangka panjang seperti HbA1c belum konsisten.[2] Buktinya menjanjikan, tapi masih berkembang. Stevia tetap sebaiknya dipahami sebagai cara memaniskan tanpa gula, bukan pengobatan.

Intinya: untuk menjaga gula darah, pemanis 0 kalori dengan indeks glikemik rendah seperti stevia bisa menjadi bagian dari strategi mengurangi gula, selama tetap disertai pola makan seimbang dan pemantauan yang tepat.

Tetap, konsultasi itu penting

Mengganti gula dengan pemanis rendah kalori adalah satu langkah, bukan solusi tunggal. Pengelolaan diabetes melibatkan banyak faktor: pola makan menyeluruh, aktivitas fisik, obat (bila diresepkan), dan pemantauan rutin. Karena itu, keputusan penting soal diet sebaiknya selalu dibicarakan dengan dokter atau ahli gizi yang memahami kondisimu.

Sumber

  1. International Diabetes Federation. Diabetes Atlas — Indonesia. diabetesatlas.org
  2. Effect of stevia on blood glucose and HbA1C: A meta-analysis (2024). PubMed 39098209

Lanjut baca

Masih penasaran soal stevia?

Dailyswit memaniskan pakai daun stevia. 0 kalori, cukup 1–2 tetes. Kalau mau tahu lebih dalam, panduan lengkapnya ada di sini.