Panduan lengkap

Stevia: apa itu dan seberapa aman?

Rasa manisnya berasal dari daun, bukan dari gula, dan hampir tidak menyumbang kalori. Panduan ini membahas asal-usul stevia, penilaian FDA, EFSA, dan WHO soal keamanannya, serta pengaruhnya terhadap gula darah. Setiap angka disertai sumber.

Apa itu stevia?

Stevia adalah pemanis yang berasal dari daun tanaman Stevia rebaudiana, semak kecil asli Amerika Selatan. Masyarakat Guaraní di Paraguay telah lama memakai daunnya untuk memaniskan minuman, jauh sebelum stevia dikenal luas.

Rasa manis pada daun stevia berasal dari sekelompok senyawa alami bernama glikosida steviol (steviol glycosides). Yang paling dikenal adalah stevioside dan rebaudioside A (biasa disingkat Reb A). Senyawa inilah yang diekstrak menjadi pemanis, termasuk pada Dailyswit yang memakai ekstrak daun stevia.

Menurut FDA (badan pengawas obat & makanan Amerika Serikat), glikosida steviol dilaporkan 200 sampai 400 kali lebih manis dari gula pasir.[1] Karena sangat pekat, jumlah yang dibutuhkan sedikit sekali. Pada produk tetes seperti Dailyswit, satu gelas cukup 1–2 tetes.

Singkatnya: stevia = pemanis dari daun tanaman; rasa manisnya berasal dari glikosida steviol, senyawa alami yang jauh lebih manis dari gula.

Mengapa manis tetapi tanpa kalori?

Gula pasir (sukrosa) dicerna tubuh menjadi glukosa dan fruktosa, lalu digunakan sebagai energi. Dari situlah kalorinya berasal.

Glikosida steviol berbeda. Tubuh tidak memecahnya menjadi energi seperti gula. Lidah tetap menangkap rasa manisnya, tetapi senyawanya melewati tubuh tanpa menambah kalori yang berarti. Karena itu stevia disebut pemanis non-nutritif: manis, tanpa kalori.

Seberapa aman stevia?

Glikosida steviol termasuk pemanis yang telah banyak ditinjau oleh lembaga keamanan pangan internasional.

  • FDA (Amerika Serikat). FDA telah meninjau banyak pengajuan untuk glikosida steviol murni (kemurnian minimal 95%) dan tidak berkeberatan atas kesimpulan bahwa bahan ini Generally Recognized As Safe (GRAS) untuk digunakan sebagai pemanis pangan.[1]
  • EFSA (Otoritas Keamanan Pangan Eropa). Glikosida steviol disetujui sebagai bahan tambahan pangan di Uni Eropa dengan kode E960. Dalam evaluasinya, EFSA menyimpulkan bahwa bahan ini tidak bersifat genotoksik maupun karsinogenik.[2]
  • JECFA (Komite Ahli Gabungan FAO/WHO). JECFA menetapkan Acceptable Daily Intake (ADI) atau batas asupan harian yang dapat diterima sebesar 0–4 mg per kilogram berat badan per hari, dinyatakan sebagai steviol.[2]

ADI adalah jumlah yang dinilai aman dikonsumsi setiap hari sepanjang hidup. Karena stevia sangat pekat, pemakaian sehari-hari (beberapa tetes untuk minuman) umumnya jauh di bawah batas tersebut.

Perlu dicatat: status keamanan ini berlaku untuk glikosida steviol dengan kemurnian tinggi. Daun stevia mentah atau ekstrak kasar memiliki status regulasi yang berbeda di sejumlah negara.[1]

Stevia, indeks glikemik & gula darah

Karena tidak diubah menjadi glukosa, stevia memiliki indeks glikemik mendekati nol. Sebagai pemanis, stevia pada dasarnya tidak menaikkan gula darah seperti gula pasir. Karena itu stevia banyak dipilih oleh mereka yang sedang membatasi asupan gula.

Sejumlah penelitian juga mencoba melihat lebih jauh. Sebuah meta-analisis tahun 2024 yang menggabungkan 26 studi dengan total lebih dari 1.400 partisipan menemukan bahwa konsumsi stevia dikaitkan dengan penurunan kadar gula darah, terutama pada kelompok tertentu. Namun tinjauan yang sama mencatat bahwa efek pada insulin dan HbA1c (rata-rata gula darah jangka panjang) belum konsisten antar-studi.[3]

Buktinya menjanjikan, tetapi masih berkembang. Stevia adalah cara memaniskan tanpa menambah gula dan kalori, bukan obat untuk menurunkan gula darah.

Di Indonesia, topik ini sangat relevan. Menurut IDF Diabetes Atlas, Indonesia termasuk lima besar dunia untuk jumlah penyandang diabetes dewasa, kira-kira satu dari sembilan orang dewasa.[4] Karena itu semakin banyak orang mencari cara mengurangi gula tanpa kehilangan rasa manis sepenuhnya.

Stevia dibanding pemanis lain

Setiap pemanis memiliki karakter yang berbeda.

PemanisSumberKaloriEfek pada gula darah
SteviaDaun tanaman (alami)Praktis 0Praktis tidak menaikkan
Gula pasir (sukrosa)Tebu / bit± 4 kkal per gramMenaikkan
MaduAlami (lebah)Ada kaloriMenaikkan
Pemanis buatan (mis. aspartam, sukralosa)SintetisRendah–0Umumnya minimal

Tabel ini adalah gambaran umum untuk edukasi, bukan anjuran medis. Perincian tiap pemanis dapat berbeda tergantung jenis dan takarannya.

Cara memakai stevia sehari-hari

Karena rasanya sangat pekat, kuncinya satu: mulai dari sedikit. Untuk pemanis tetes seperti Dailyswit:

  • Teteskan 1–2 tetes ke dalam segelas teh, kopi, susu, jus, atau smoothies (kira-kira 1 tetes untuk 200 ml).
  • Aduk, cicipi, lalu tambahkan sedikit demi sedikit bila ingin lebih manis.
  • Bisa juga dipakai untuk puding, yogurt, oatmeal, kue, hingga saus.

Sebagian orang perlu beberapa hari untuk terbiasa dengan rasa stevia yang sedikit berbeda dari gula. Hal ini wajar, dan lidah umumnya menyesuaikan dengan sendirinya.

Pertanyaan yang sering muncul

Apakah stevia aman untuk dikonsumsi setiap hari?

Glikosida steviol murni dinilai aman sebagai pemanis oleh FDA (GRAS), EFSA (E960), dan JECFA (ADI 0–4 mg/kg berat badan/hari). Pemakaian normal sehari-hari umumnya jauh di bawah batas tersebut.[1][2]

Apakah stevia menaikkan gula darah?

Sebagai pemanis, stevia punya indeks glikemik mendekati nol dan pada dasarnya tidak menaikkan gula darah seperti gula pasir. Untuk kondisi medis tertentu, tetap konsultasikan ke tenaga kesehatan.

Apakah stevia sama dengan pemanis buatan?

Berbeda. Pemanis buatan seperti aspartam atau sukralosa dibuat secara sintetis, sedangkan glikosida steviol berasal dari daun tanaman stevia.

Apakah stevia meninggalkan rasa pahit?

Sebagian orang merasakan sedikit aftertaste, terutama bila takarannya berlebih. Dengan pemakaian secukupnya, mulai dari satu tetes, rasa manisnya umumnya terasa lebih bersih.

Sumber & rujukan

  1. U.S. Food & Drug Administration (FDA). High-Intensity Sweeteners. fda.gov
  2. European Food Safety Authority (EFSA). Scientific opinion on the food additive steviol glycosides (E 960a–d) and the ADI for steviol (2024). efsa.onlinelibrary.wiley.com
  3. Meta-analisis: Effect of stevia on blood glucose and HbA1C: A meta-analysis (2024). PubMed 39098209
  4. International Diabetes Federation (IDF). Diabetes Atlas — Indonesia. diabetesatlas.org
  5. Badan POM RI. Peraturan BPOM No. 1 Tahun 2022 tentang Pengawasan Klaim pada Label dan Iklan Pangan Olahan. peraturan.bpk.go.id

Tautan menuju sumber pihak ketiga; isi di dalamnya berada di luar kendali Dailyswit dan dapat berubah sewaktu-waktu.

Dari daun ke gelas

Dailyswit Stevia Drop

Pemanis dari daun stevia dalam botol pipet 15 ml. Cukup 1–2 tetes untuk satu gelas.